Selasa, 20 Januari 2015

REVOLUSI KOMUNIKASI DAN MASYARAKAT

Tiga pendekatan dalam menanggapi perkembangan teknologi komunikasi menurut Anthony G. Wilhelm : 
a.         DYSTOPIAN 
Aliran ini sangat hati-hati dan kritis terhadap penerapan teknologi, sebab dampak yang ditimbulkan adalah pengacauan kehidupan sosial dan politik. Upaya-upaya yang dilakukan faham ini adalah dengan mengembalikan kualitas-kualitas esensial yang menyusut dalam masyarakat kontemporersebagai contoh interaksi tatap muka dianggap lebih alamiah daripada menggunakan media. 
Di sini pengguna teknologi komunikasi bersikap hati-hati, teliti, dan kritis terhadap teknologi yang digunakannya. Karena sekarang ini telah banyak kasus penyimpangan dan kejahatan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, misalnya adanya para hacker, dan cybercrime, cyber espionage, cyber sabotage, dan lain-lain.
b.         NEO-FUTURIS 
Aliran ini merupakan refleksi dari ‘warisan’ tak terkendali dari gelombang pertama Futurisme. Suatu keyakinan yang tidak kritis sedang berlangsung, yaitu penerimaan terhadap hal-hal baru, teknologi high speed dianggap sebagai kekuatan-kekuatan yang menggilas semua yang dilewatinya, dan meletakkan dasar kerja untuk masa depan yang penuh harapan.
Di sini neo-futuris menganggap bahwa teknologi memudahkan seseorang, entah untuk berkomunikasi, bersosial, berpolitik, bertransaksi informasi, dan sebagainya. Masyarakat dan pengguna teknologi juga menerima keberadaan suatu teknologi baru, karena beranggapan hal tersebut adalah suatu hal yang inovatif untuk dijadikan standart kerja masa depannya. 
c.          TEKNO-REALIS 
Teknorealis adalah “ teknologi tidak netral” dan “internet adalah revolusioner tetapi tidak utopia”. Faham ini mengakui teknologi digital mempunyai manfaat-manfaat praktis yang dapat digunakan namun tanpa harus melawan nilai-nilai kemanusiaan.
Tekno-realis ialah sebagai penengah antara Dystopian dengan Neo-Futuris dalam penerapan teknologi komunikasi dan dampak-dampaknya dalam masyarakat. Tekno-realis di sini terbuka dan menerima hal-hal baru, namun tetap berhati-hati dengan teknologi tersebut dan berkaca pada nilai-nilai kemanusiaan yang ada.

Bangsa indonesia sedang menuju untuk menjadi masyarakat informasi, karena belum secara keseluruhan bangsa Indonesia menjadi masyarakat informasi, atau bisa dibilang hanya sebagian dari kebanyakan masyarakat Indonesia. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia, hanya menyimpan dan mendistribusikan, tanpa mengolah, atau hanya menyimpan saja tanpa mengolah dan mendistribusikannya kembali. Sedangkan bila menilik dari pengertian masyarakat informasi sendiri yang aktivitas utamanya adalah memproduksi, mengolah, atau mendistribusikan informasi, dan memproduksi teknologi informasi, maka menurut saya, bangsa Indonesia belum termasuk dalam kategori masyarakat informasi, namun memang sedang menuju menjadi masyarakat informasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar